Artikel Terbaru
Pengunjung Cerdas Lanjut Membaca dan Memberi Komentar
Ini adalah aplikasi yang sengaja dirancang mempermudah para dai/murabbi untuk memperoleh kumpulan materi dengan aplikasi komputer (.chm). Materi disusun oleh Tim iLiy Press yang beranggotakan Junaidi Irsyadurahiim, Yaumi Kusuma Dewi, dan Purwanto Abd Al-Ghaffar. Materi Tarbiyah dilengkapi dengan tampilan Alquran 30 juz dan terjemahnya (versi Kementerian Agama RI), serta klasifikasi tematik Alquran, plus kumpulan hadis yang juga diklasifikasi secara tematik, sehingga pengguna dapat mencari jawaban dengan cepat atas berbagai ragam persoalan.
Berikut ini daftar isi Materi Tarbiyah:
Anda bisa mengunduh (download) Materi Tarbiyah ini dengan gratis. Sebelum keluar dari halaman ini, silakan Anda meninggalkan komentar sebagai tanda ta'aruf. Selamat mencoba.
Area Download:
Ukuran file: 31 Mb
Format: .rar
Download: di sini
Ramadan segera menjelang, kegembiraan hati pun kembali membuncah. Akan segera disaksikan kehidupan seperti "disulap", dari perubahan cat rumah sampai dengan penampilan "mendadak islami". Anda ingin melihat miniaturnya? Nanti, silakan menyalakan telivisi. Hampir di setiap channel-nya tampak fenomena itu.
Rasulullah selalu memberi kabar gembira kepada para sahabatnya setiap kali datang bulan Ramadan. Beliau bersabda, “Telah datang pada kalian bulan Ramadan, bulan yang diberkahi, Allah telah mewajibkan atas kalian untuk berpuasa di dalamnya. Pada bulan itu juga dibukakan pintu Surga serta ditutup pintu-pintu neraka…” (HR. Ahmad).
Ramadan memang berkah dari semua sisi kebaikan. Oleh karena itu, umat Islam harus mengambil keberkahan Ramadan dari semua aktivitas positif dan dapat memajukan Islam dan umat Islam. Termasuk dari sisi ekonomi, sosial, budaya, dan pemberdayaan umat. Meskipun demikian, semua aktivitas yang positif itu tidak sampai mengganggu kekhusukan ibadah Ramadan, terutama pada 10 terakhir bulan Ramadan. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan bulan puasa sebagai bulan penuh amaliah dan aktivitas positif. Selain yang telah tergambar seperti tersebut di muka, beliau juga aktif melakukan kegiatan sosial kemasyarakatan.
Persiapan Mental
Persiapan mental untuk puasa dan ibadah terkait lainnya sangat penting. Apalagi, pada saat menjelang hari-hari terakhir, karena tarikan keluarga yang ingin belanja mempersiapkan hari raya, pulang kampung, dan lain-lain, sangat memengaruhi umat Islam dalam menunaikan kekhusukan ibadah Ramadan. Dan kesuksesan ibadah Ramadan seorang muslim dilihat dari akhirnya. Jika akhir Ramadan diisi dengan iktikaf dan taqarrub yang lainnya, maka insya-Allah, dia termasuk yang sukses dalam melaksanakan ibadah Ramadan.
Persiapan Ruhiyah
Persiapan ruhiyah dapat dilakukan dengan memperbanyak ibadah, seperti memperbanyak membaca Alquran shaum sunnah, zikir, doa, dan lain-lain. Dalam hal mempersiapkan ruhiyah, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam mencontohkan kepada umatnya dengan memperbanyak puasa di bulan Sya’ban, sebagaimana yang diriwayatkan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Saya tidak melihat Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam menyempurnakan puasanya, kecuali di bulan Ramadan. Dan saya tidak melihat dalam satu bulan yang lebih banyak puasanya kecuali pada bulan Sya’ban” (HR Muslim).
Persiapan Fikriyah
Persiapan fikriyah atau akal dilakukan dengan mendalami ilmu, khususnya ilmu yang terkait dengan ibadah Ramadan. Banyak orang yang berpuasa tidak menghasilkan kecuali lapar dan dahaga. Hal ini dilakuakan karena puasanya tidak dilandasi dengan ilmu yang cukup. Seorang yang beramal tanpa ilmu, tidak menghasilkan kecuali kesia-siaan belaka.
Persiapan Fisik dan Materi
Seorang muslim tidak akan mampu atau berbuat maksimal dalam berpuasa jika fisiknya sakit. Oleh karena itu, mereka dituntut untuk menjaga kesehatan fisik, kebersihan rumah, masjid dan lingkungan. Rasulullah mencontohkan kepada umat agar selama berpuasa tetap memperhatikan kesehatan. Hal ini terlihat dari beberapa peristiwa di bawah ini:
- Menyikat gigi dengan siwak (HR. Bukhari dan Abu Daud).
- Berobat seperti dengan berbekam (al-hijamah) seperti yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim.
- Memperhatikan penampilan, seperti pernah diwasiatkan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada sahabat Abdullah ibnu Mas’ud ra, agar memulai puasa dengan penampilan baik dan tidak dengan wajah yang cemberut. (HR. Al Haitsami).
Sarana penunjang yang lain yang harus disiapkan adalah materi yang halal untuk bekal ibadah Ramadan. Idealnya seorang muslim telah menabung selama 11 bulan sebagai bekal ibadah Ramadan. Sehingga, ketika bulan suci itu datang, dia dapat beribadah secara khusuk dan tidak berlebihan dalam mencari harta atau kegiatan lain yang mengganggu kekhusukan ibadah Ramadan.
Rencanakan Peningkatan Prestasi Ibadah
Ibadah Ramadan dari tahun ke tahun harus meningkat. Tahun depan harus lebih baik daripada tahun ini dan tahun ini harus lebih baik daripada tahun lalu. Ibadah Ramadan yang kita lakukan harus dapat mengubah dan memberikan output yang positif. Perubahan pribadi, perubahan keluarga, perubahan masyarakat dan perubahan sebuah bangsa.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS Ar-Ra’d: 11).
Di antara bentuk-bentuk peningkatan amal Ibadah seorang muslim di bulan Ramadan adalah peningkatan, ibadah puasa, peningkatan dalam tilawah Alquran, hafalan, pemahaman dan pengamalan. Peningkatan dalam aktivitas sosial, seperti infak, memberi makan kepada tetangga dan fakir-miskin, santunan terhadap anak yatim, beasiswa terhadap siswa yang membutuhkan, dan meringankan beban umat Islam.
Utamakan Persatuan Umat Islam
Bulan Ramadan adalah bulan rahmat, ketika kasih-sayang dan persaudaraan harus diutamakan daripada yang lainnya. Ukhuwah Islamiyah adalah prinsip dari kebaikan umat Islam sehingga ibadah Ramadan harus berdampak pada ukhuwah Islamiyah yang terlihat jelas dalam penentuan awal dan akhir puasa dan mengisi ibadah Ramadan. Meskipun demikian, semuanya harus tetap berkomitmen dengan Alquran dan Sunnah.
Diperlukan sikap bijak dari para ulama untuk bertemu dan duduk dalam satu majelis bersama pemerintah (Kementerian Agama) menentukan kesamaan awal dan akhir Ramadan. Tentunya, berdasarkan argumentasi ilmiah yang kuat dan landasan-landasan yang kokoh berdasarkan syariat Islam. Memang, perbedaan pendapat (dalam masalah furu') adalah rahmat. Namun, kesamaan penentuan awal dan akhir Ramadan lebih lebih dekat dari rahmat Allah yang diberikan kepada orang-orang yang bertakwa. Perbedaan pendapat dalam penentuan awal dan akhir Ramadan adalah suatu pertanda belum terbangun kuatnya budaya syura, ukhuwah Islamiyah dan pembahasan ilmiyah dalam tubuh umat Islam, lebih khusus lagi para ulamanya. Ukhuwah Islamiyah dan persatuan umat Islam jauh lebih penting daripada ibadah-ibadah sunnah dan perbedaan pendapat tetapi menimbulkan perpecahan.
Jadikan Ramadan Syahrut-Taubah
Bulan Ramadan adalah bulan dimana setan dibelenggu, hawa nafsu dikendalikan dengan puasa, pintu neraka ditutup, dan pintu surga dibuka. Dengan demikian, bulan Ramadan adalah waktu yang sangat kondusif untuk bertobat dan memulai hidup baru dengan langkah baru yang lebih Islami. Tobat berarti meninggalkan kemaksiatan, dosa, dan kesalahan serta kembali kepada kebenaran. Atau kembalinya hamba kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, meninggalkan jalan orang yang dimurkai dan jalan orang yang sesat.
Tobat bukan hanya terkait dengan meninggalkan kemaksiatan, tetapi juga terkait dengan pelaksanaan perintah Allah. Orang yang bertobat masuk kelompok yang beruntung. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung” (QS. An-Nur : 31).
Oleh karena itu, pada bulan bulan Ramadan orang-orang beriman harus memperbanyak istigfar dan tobat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, mengakui kesalahan dan meminta maaf kepada sesama manusia yang dizaliminya serta mengembalikan hak-hak mereka. Tobat dan istigfar menjadi syarat utama untuk mendapat maghfirah, rahmat dan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala.
“Dan (dia berkata), 'Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa'.” (QS Hud 52)
Jadikan Ramadan Syahrut Tarbiyah
Bulan Ramadan harus dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh para dai dan ulama untuk melakukan dakwah dan tarbiyah. Terus melakukan gerakan reformasi; membuka pintu-pintu hidayah dan menebar kasih sayang bagi sesama; meningkatkan kepekaan untuk menolak kezhaliman dan kemaksiatan; menyebarkan syiar Islam dan meramaikan masjid dengan aktifitas taklim, kajian kitab, diskusi, ceramah, dan lain-lain.
Dengan begitu, diharapkan terwujud perubahan-perubahan yang esensial dan positif dalam berbagai bidang kehidupan. Ramadan bukan bulan istirahat yang menyebabkan mesin-mesin kebaikan berhenti bekerja, melainkan momentum tahunan terbesar untuk segala jenis kebaikan sehingga kebaikan itulah yang dominan atas keburukan dan dominasi kebaikan bukan hanya di bulan Ramadan, tetapi juga di luarnya.
Ambil Keberkahan Ramadan secara Semaksimal
Ramadan adalah bulan penuh berkah dari semua sisi kebaikan. Oleh karena itu, umat Islah harus mengembail keberkahan Ramadan dari semua aktivitas positif dari berbagai aspek, seperti ekonomi, sosial, budaya dan pemberdayaan umat. Walaupun demikian, semua aktivitas yang positif itu jangan sampai mengganggu kekhusukan ibadah ramadhan terutama pada 10 hari terakhir..
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam menjadikan bulan puasa sebagai bulan penuh amaliah dan aktivitas positif. Selain yang telah tergambar seperti tersebut di muka, beliau juga aktif melakukan kegiatan sosial kemasyarakatan. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam menikahkan putrinya (Fathimah) dengan Imam Ali r.a. Pada bulan itu, beliau pula menikahi Hafsah dan Zainab.
Jadikan Ramadan Bulan Evaluasi
Semua ibadah Ramadan yang telah dilakukan tidak boleh lepas dari muhasabah atau evaluasi. Muhasabah dilakukan terhadap langkah-langkah yang telah kita perbuat dengan senantiasa menajamkan mata hati (bashirah) sehingga tidak menjadi orang/kelompok yang selalu mencari-cari kesalahan orang/kelompok lain tanpa mau bergeser dari perbuatan kita sendiri yang mungkin jelas kesalahannya.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa menerima puasa kita dan amal saleh lainnya dan mudah-mudahan tarhib ini dapat membangkitkan semangat beribadah kita sekalian sehingga membuka peluang bagi terwujudnya Indonesia yang lebih baik, lebih aman, lebih adil dan lebih sejahtera.

Hari ini, jagad mahasantri Indonesia diliputi kabut tebal. Prof. Dr. KH Ali Mustafa Yaqub, MA tutup usia. Pada Rabu, pukul 06.00 WIB, ia mengembuskan nafas terakhirnya di RS Hermina Ciputat dalam usia 64 tahun.
KH Ali Mustafa Yaqub lahir di Batang, Jawa Tengah pada 2 Maret 1952. Ia mulai masuk pesantren sejak usia SMP. Yakni di Pondok Seblak Jombang. Kemudian, ia nyantri-akif lagi di Pesantren Tebuireng Jombang. Selain lagi di pondok pesantren, Ali Mustafa Ya’qub juga menempuh pendidikan di Fakultas Syariah Universitas Hasyim Asy’ari.
Pada tahun 1976, Ali Mustafa Yaqub melanjutkan ke Fakultas Syariah Universitas Islam Imam Muhammad bin Saud, Riyadh, Arab Saudi hingga mendapatkan gelar Lc. pada tahun 1980. Lalu lulus Master di Universitas King Saud pada 1985.
Setelah pulang ke tanah air, Ali Mustafa Yaqub menyebarkan ilmunya dengan menjadi dosen di banyak perguruan tinggi Islam termasuk IAIN Syarif Hidayatullah. Pada tahun 1989, bersama keluarganya, Ali Mustafa Yaqub mendirikan Pesantren “Darus-Salam” di desa kelahirannya. Ia kemudian menjadi Imam Besar ke-4 Masjid Istiqlal Jakarta sejak Desember 2005 hingga Januari 2016.
Di samping itu, ia juga dikenal sebagai:
- Pendiri Pesantren Mahasantri Darussunnah
- Guru Besar Ilmu Hadits
- Komisi Fatwa MUI
Ia juga merupakan penulis produktif. Tulisan-tulisannya, yang tidak jarang sarat dengan kritik sosial, terbit dalam bentuk buku ataupun artikel di media-media massa cetak dan elektronik. Salah satu nya berjudul “Haji Pengabdi Setan” di-publish oleh Gatra, edisi 10 Januari 2006. Dalam artikel itu, Ali Mustafa Yaqub menyindir orang yang gemar naik haji berulang-ulang agar di mata orang awam disebut orang luhur.
Di samping itu, menurutnya, tak satu pun ayat yang menyuruh umat Islam melaksanakan haji berkali-kali, sementara masih banyak kewajiban agama yang harus dilakukan, seperti menyantuni anak yatim dan memberi makan fakir miskin.
Agar pembaca memperoleh gagasan yang utuh dan menyeluruh seputar topik yang satu ini, kami menurunkan kembali artikel Ali Mustafa Yaqub tersebut.
Selamat jalan, Mahaguru.... Semoga Allah Ta’ala mengampuni dan merahmatimu, melipatgandakan pahala kebajikan-kebajikanmu, dan kelak menyempurnakan kasih-Nya kepadamu dengan memasukkanmu ke dalam jannah-Nya.
*********
Haji Pengabdi Setan
Oleh: KH Ali Mustafa Yaqub
IBADAH haji 1426 H, pekan lalu, usai sudah. Jamaah haji Indonesia mulai pulang ke Tanah Air. Bila mereka ditanya apakah Anda ingin kembali lagi ke Mekkah, hampir seluruhnya menjawab, ”Ingin.” Hanya segelintir yang menjawab, “Saya ingin beribadah haji sekali saja, seperti Nabi SAW.”
Jawaban itu menunjukkan antusiasme umat Islam Indonesia beribadah haji. Sekilas, itu juga menunjukkan nilai positif. Karena beribadah haji berkali-kali dianggap sebagai barometer ketakwaan dan ketebalan kantong. Tapi, dari kacamata agama, itu tidak selamanya positif.
Kendati ibadah haji telah ada sejak masa Nabi Ibrahim, bagi umat Islam, ia baru diwajibkan pada tahun 6 H. Walau begitu, Nabi SAW dan para sahabat belum dapat menjalankan ibadah haji karena saat itu Mekkah masih dikuasai kaum musyrik. Setelah Nabi SAW menguasai Mekkah (Fath Makkah) pada 12 Ramadan 8 H, sejak itu beliau berkesempatan beribadah haji.
Namun Nabi SAW tidak beribadah haji pada 8 H itu. Juga tidak pada 9 H. Pada 10 H, Nabi SAW baru menjalankan ibadah haji. Tiga bulan kemudian, Nabi SAW wafat. Karenanya, ibadah haji beliau disebut haji wida’ (haji perpisahan).
Itu artinya, Nabi SAW berkesempatan beribadah haji tiga kali, namun beliau menjalaninya hanya sekali. Nabi SAW juga berkesempatan umrah ribuan kali, namun beliau hanya melakukan umrah sunah tiga kali dan umrah wajib bersama haji sekali. Mengapa?
Sekiranya haji dan atau umrah berkali-kali itu baik, tentu Nabi SAW lebih dahulu mengerjakannya, karena salah satu peran Nabi SAW adalah memberi uswah (teladan) bagi umatnya. Selama tiga kali Ramadan, Nabi SAW juga tidak pernah mondar-mandir menggiring jamaah umrah dari Madinah ke Mekkah.
Dalam Islam, ada dua kategori ibadah: ibadah qashirah (ibadah individual) yang manfaatnya hanya dirasakan pelakunya dan ibadah muta’addiyah (ibadah sosial) yang manfaatnya dirasakan pelakunya dan orang lain. Ibadah haji dan umrah termasuk ibadah qashirah. Karenanya, ketika pada saat bersamaan terdapat ibadah qashirah dan muta’addiyah, Nabi SAW tidak mengerjakan ibadah qashirah, melainkan memilih ibadah muta’addiyah.
Menyantuni anak yatim, yang termasuk ibadah muta’addiyah, misalnya, oleh Nabi SAW, penyantunnya dijanjikan surga, malah kelak hidup berdampingan dengan beliau. Sementara untuk haji mabrur, Nabi SAW hanya menjanjikan surga, tanpa janji berdampingan bersama beliau. Ini bukti, ibadah sosial lebih utama ketimbang ibadah individual.
Di Madinah, banyak ”mahasiswa” belajar pada Nabi SAW. Mereka tinggal di shuffah Masjid Nabawi. Jumlahnya ratusan. Mereka yang disebut ahl al-shuffah itu adalah mahasiswa Nabi SAW yang tidak memiliki apa-apa kecuali dirinya sendiri, seperti Abu Hurairah. Bersama para sahabat, Nabi SAW menanggung makan mereka. Ibadah muta’addiyah seperti ini yang diteladankan beliau, bukan pergi haji berkali-kali atau menggiring jamaah umrah tiap bulan. Karenanya, para ulama dari kalangan Tabiin seperti Muhammad bin Sirin, Ibrahim al-Nakha’i, dan Malik bin Anas berpendapat, beribadah umrah setahun dua kali hukumnya makruh (tidak disukai), karena Nabi SAW dan ulama salaf tidak pernah melakukannya.
Dalam hadis qudsi riwayat Imam Muslim ditegaskan, Allah dapat ditemui di sisi orang sakit, orang kelaparan, orang kehausan, dan orang menderita. Nabi SAW tidak menyatakan bahwa Allah dapat ditemui di sisi Kabah. Jadi, Allah berada di sisi orang lemah dan menderita. Allah dapat ditemui melalui ibadah sosial, bukan hanya ibadah individual. Kaidah fikih menyebutkan, al-muta’addiyah afdhol min al-qashirah (ibadah sosial lebih utama daripada ibadah individual).
Jumlah jamaah haji Indonesia yang tiap tahun di atas 200.000 sekilas menggembirakan. Namun, bila ditelaah lebih jauh, kenyataan itu justru memprihatinkan, karena sebagian dari jumlah itu sudah beribadah haji berkali-kali. Boleh jadi, kepergian mereka yang berkali-kali itu bukan lagi sunah, melainkan makruh, bahkan haram.
Ketika banyak anak yatim telantar, puluhan ribu orang menjadi tunawisma akibat bencana alam, banyak balita busung lapar, banyak rumah Allah roboh, banyak orang terkena pemutusan hubungan kerja, banyak orang makan nasi aking, dan banyak rumah yatim dan bangunan pesantren terbengkalai, lalu kita pergi haji kedua atau ketiga kalinya, maka kita patut bertanya pada diri sendiri, apakah haji kita itu karena melaksanakan perintah Allah?
Ayat mana yang menyuruh kita melaksanakan haji berkali-kali, sementara kewajiban agama masih segudang di depan kita? Apakah haji kita itu mengikuti Nabi SAW? Kapan Nabi SAW memberi teladan atau perintah seperti itu? Atau sejatinya kita mengikuti bisikan setan melalui hawa nafsu, agar di mata orang awam kita disebut orang luhur? Apabila motivasi ini yang mendorong kita, maka berarti kita beribadah haji bukan karena Allah, melainkan karena setan.
Sayangnya, masih banyak orang yang beranggapan, setan hanya menyuruh kita berbuat kejahatan atau setan tidak pernah menyuruh beribadah. Mereka tidak tahu bahwa sahabat Abu Hurairah pernah disuruh setan untuk membaca ayat kursi setiap malam. Ibadah yang dimotivasi rayuan setan bukan lagi ibadah, melainkan maksiat.
Jam terbang iblis dalam menggoda manusia sudah sangat lama. Ia tahu betul apa kesukaan manusia. Iblis tidak akan menyuruh orang yang suka beribadah untuk minum khamr. Tapi Iblis menyuruhnya, antara lain, beribadah haji berkali-kali. Ketika manusia beribadah haji karena mengikuti rayuan iblis melalui bisikan hawa nafsunya, maka saat itu tipologi haji pengabdi setan telah melekat padanya. Wa Allah a’lam.
Para pejabat intelijen Rusia (FSB) telah mengungkapkan keyakinan mereka, Michael Jackson dibunuh oleh Badan Pusat Intelijen AS (CIA).
Kesimpulan ini diambil setelah pemeriksaan data yang dikirimkan oleh satelit militer Kosmos 2450 Rusia.
Data tersebut menunjukkan, tepat sebelum kematian bintang pop itu, pulsa elektromagnetik yang konsisten dengan pola senjata EMR, bekerja di “koordinat yang tepat” rumah Michael Jackson berada. Senjata EMR adalah senjata milik Rusia yang dicuri oleh Amerika Serikat.
Artikel yang diterbitkan oleh Yournewswire pada Desember 2015 mengungkapkan, alasan mengapa CIA merasa perlu untuk melenyapkan Michael Jackson adalah karena niatan Jacko untuk menggelar konser terakhirnya di O2 Arena London. Michael Jackson menamai konser ini dengan nama “This Is It Michael Jackson” dan rencananya akan digelar tanggal 25 Juli 2009.
Dalam konser tersebut, Michael Jackson berencana memperingatkan dunia bahwa akan terjadi sebuah genosida massal oleh Illuminati. Untuk membiayai konsernya, Michael Jackson mendapatkan pinjaman dana dari putra raja Bahrain, Sheikh Abdullah bin Hamad al-Khalifa.
Michael Jackson telah merencanakan untuk membuat sebuah lagu yang mirip dengan “Heal The World” bagi rakyat Palestina. “Heal the World” adalah lagu Michael yang awalnya dibuat mengenai anak-anak di seluruh dunia yang berjuang menghadapi kelaparan dan kemiskinan.
Lagu ciptaan Michael Jackson, “We’ve had Enough”, yang akan dibawakan dengan tata panggung dahsyat dalam konser tersebut, adalah sebuah lagu yang menceritakan tentang rakyat Palestina tidak bersenjata, yang dibantai secara brutal dan tidak adil oleh Angkatan Pertahanan Israel (IDF). MJ berencana menggunakan turnya tersebut untuk mengekspos penyiksaan yang dilakukan Israel ini terhadap rakyat Palestina.
Hal ini diperkuat dengan dugaan keluarga besar MJ yang sangat percaya jika penyanyi tersebut tewas karena dibunuh. Mereka menyebut MJ dibunuh karena katalog musiknya. Hal itu diungkapkan mantan penasehat Michael, Leonard Rowe.
Menurut Leonard, penyanyi yang dijuluki ‘King of Pop’ itu pernah mencurahkan rasa cemasnya bahwa ia takut dibunuh. Menurut Michael, ada beberapa orang yang sangat menginginkan katalog musik miliknya tersebut. “Michael bilang orang-orang itu akan membunuhnya. Michael selalu merasa orang-orang itu akan membunuhnya karena katalog musik”, kata Leonard seperti dikutip Showbizspy, Rabu, 16 Juni 2010.
Berikut lirik lagu “We’ve had Enough” yang akan dibawakan Michael dalam konser terakhirnya. Liriknya mengungkapkan kebrutalan Israel dan kekejaman yang diterima warga Palestina, serta ajakan untuk bersama-sama melawan Israel.
Love was taken from a young life
And no one told her why
Her direction has a dimlight
From one more violent crime
Cinta diambil dari kehidupan seorang pemudi…
Dan tidak ada yang mengatakan mengapa…
Pandangannya sayu…
Menyaksikan satu lagi kejahatan yang kejam…
She innocently questioned why
Why her father had to die
She asked the men in blue
How is it that you get to choose
Who will live and who will die
Did god say that you could decide?
Ia dengan polos bertanya… (lirik bercerita mengenai bocah Palestina yang bertanya pada tentara Israel)
Mengapa ayahnya harus mati…(IDF membunuh ayahnya)
Ia bertanya kepada tentara itu dengan sedih…
Bagaimana kamu yang memilih…
Seseorang itu akan mati atau hidup…
Apakah Tuhan bilang kamu yang harus memutuskan…
You saw he didn’t run
And that my daddy had no gun
Kamu lihat, ia tidak lari… (ayahnya tak bersalah)
Dan ayahku tak bersenjata…
In the middle of a villageWay in a distant land
Lies a poor boy with his broken toy
Too young to understand
Di tengah desa…
Di negeri yang jauh…
Hiduplah seorang bocah miskin dengan mainannya yang rusak…
Masih terlalu muda untuk memahami…
He’s awaken, ground is shakin
His father grabs his hand
Screaming, crying, his wife’s dying
Now he’s left to explain
Ia bangun, tanah disekitarnya bergetar…
Ayahnya meraih tangannya…
Ia menjerit, menangis, istrinya sekarat…
Sekarang tinggal dirinya yang harus menjelaskan…
He innocently questioned why
Why his mother had to die
What did these soldiers come here for?
If they’re for peace, why is there war?
Ia dengan polos ditanya mengapa… (putranya bertanya mengenai kejahatan Israel di Palestina)
Mengapa ibunya harus mati…(ditangan IDF)
Untuk apa tentara-tentara itu datang kemari…
Jika alasannya untuk perdamaian, mengapa ada perang…
Did God say that they could decide
Who will live and who will die?
All my mama ever did
Was try to take care of her kids
Apakah Tuhan bilang mereka bisa memutuskan…
Siapa yang akan hidup dan akan mati…
Yang ibuku lakukan hanyalah…
Berusaha merawat anak-anaknya…
We’re innocently standing by
Watching people lose their lives
It seems as if we have no voice
It’s time for us to make a choice
Kita hanya bisa berdiri…
Menyaksikan orang-orang kehilangan nyawa mereka…
Tampaknya seolah-olah kita tidak memiliki suara…
Sudah waktunya bagi kita untuk membuat pilihan…
Only god could decide
Who will live and who will die
There’s nothing that can’t be done
If we raise our voice as one
Hanya Tuhan yang bisa memutuskan…Siapa yang akan hidup dan siapa yang akan mati…
Tidak ada yang tidak bisa dilakukan…
Jika kita mengangkat suara kita bersama-sama…
They’ve gotta hear it from me
They’ve gotta hear it from you
They’ve gotta hear it from us
We can’t take it
We’ve already had enough
Mereka harus mendengarnya dariku…
Mereka harus mendengar darimu…
Mereka harus mendengarnya dari kita…
Kita tidak bisa menahannya lagi…
Sudah cukup bagi kita…
They’ve gotta hear it from me
They’ve gotta hear it from you
They’ve gotta hear it from you baby
We can’t take it
We’ve already had enough
Mereka harus mendengarnya dariku…
Mereka harus mendengar darimu…
Mereka harus mendengar darimu, sayang…
Kita tidak bisa menahannya lagi…
Sudah cukup bagi kita…
Deep in my soul baby
Deep in your soul and let God decide
Jauh dalam jiwaku…
Jauh dalam jiwamu dan biarkan Tuhan yang memutuskan…
Deep in my soul
It’s up to me and i’m still alive
They’ve gotta hear it from us
We can’t take it
We’ve already had enough
Jauh dalam jiwaku…
Semua terserah padaku dan aku masih hidup…
Mereka harus mendengarnya dari kita…
Kita tidak bisa menahannya lagi…
Sudah cukup bagi kita…
It’s going down baby
Just let God decide,
Hal ini akan terjadi, sayang…
Biarkan Tuhan yang memilih…
It’s going on baby
Just let God decide
Deep in my soul baby
We’ve already had enough
Hal ini berjalan, sayang…
Biarkan Tuhan yang memilih…
Jauh dalam jiwaku, sayang…
Sudah cukup bagi kita…
They’ve gotta hear it from me
They’ve gotta hear it from you
They’ve gotta hear it from us
We can’t, we can’t
We’ve already had enough
Mereka harus mendengarnya dariku…
Mereka harus mendengar darimu…
Mereka harus mendengar darimu, sayang…
Kita tidak bisa menahannya lagi…
Sudah cukup bagi kita…
Beredar kabar burung, Michael Jackson sendiri telah menjadi mualaf sebelum meninggal.
Sumber: suaranetizen.com
Jika ada yang bertanya kepadamu, kapan saat-saat terindah dalam hidupmu? Apa jawabmu? Saat pertama kali ketemu si dia? Saat prosesi pernikahan? Saat lulus ujian? Saat mendapat pekerjaan?
Ketika pertanyaan itu ditanyakan kepada Ka'b ibn Malik, ia menjawab, "Saat yg paling indah dalam hidupku adalah ketika aku mendengar bahwa Allah telah mengampuni dosaku dan menerima taubatku."
Saat itu, kaum Muslim sedang mengadakan persiapan untuk berperang di Tabuk. Ka'b ibn Malik tidak ikut serta dalam jihad itu karena alasan tertentu yang dibuat-buat. Akibat ulah Ka'b itu, Rasul saw. memerintahkan kepada semua kaum Muslim, termasuk istri Ka'b sendiri, untuk tidak mengajaknya bicara selama 50 hari, di mana pun Ka'b bertemu mereka....
Setelah berjalan 50 hari, Allah Ta'ala menurunkan wahyu yg memberitahukan tentang diterimanya taubat Ka'b. Saat Ka'b masuk ke dalam masjid, Rasulullah saw. berkata kepadanya, "Wahai Ka'b, aku ingin memberitakan kabar yg amat menggembirakan sejak engkau dilahirkan oleh ibumu... pada hari ini, Allah mengampunimu dan menerima taubatmu."
Mestinya, seperti itulah kita.... Saat paling indah dalam kehidupan kita adalah manakala Allah menerima taubat kita. Saat yg paling manis dan indah dalam kehidupan kita pd saat mampu mengeluarkan kerak kemaksiatan yang memenuhi hati dan bertaubat kepada Allah 'Azza wa Jalla.
Berapa usia kita sekarang? Kapan terakhir kali Anda menangis di hadapan Allah karena takut kpd Allah dari akibat dosa-dosa serta kemaksiatan yg bertahun-tahun, bahkan mungkin berpuluh-puluh tahun kita lakukan dengan bangga? Kapan terakhir kalinya Anda bersujud kepada-Nya dengan penuh kesungguhan? Astaghfiullah al-'Azhim alladzi la ilaha illa Huwa al-Hayy al-Qayyum wa atub ilaih....
Anda mencari tempat refreshing di Kota Palu? Pantai Taipa, salah satunya. Lokasinya hanya 20 km utara kota Palu. Dari Bandara Mutiara Palu, untuk mencapai kawasan Wisata Taipa Beach, hanya dibutuhkan waktu sekitar 30 menit.
Taipa memiliki pasir putih dan air laut yang jernih. Hanya dengan tarif masuk Rp 5000, Anda sudah dapat menikmati keindahan pantai ini. Pantai Taipa menawarkan keindahan dan pesona bawah laut yang menarik, wisatawan bisa ber-snoorkeling ataupun diving keindahan terumbu karang dan ikan warna-warni sudah dapat terlihat hanya 50 meter dari bibir pantai. Bagi pencinta diving, kawasan ini juga memiliki spot-spot menarik untuk dinikmati.
Selain itu, wisatawan juga akan dimanjakan dengan pemandangan elok Gunung Gawalise yang dapat terlihat dari kejauhan. Suburnya alam dengan pepohonan yang menghijau seakan membentuk gradasi warna dengan birunya langit dan air laut di Taipa Beach. Beberapa fasilitas penunjang yang sudah dibangun dan dioperasikan adalah cottage dan kolam renang. Tarif di cottage sekitar Rp 500.000 permalam. Jika ingin menghemat, Anda bisa bermalam di saung atau pendopo yang disediakan oleh pengelola dengan tarif sekitar Rp 100.000 permalam.
Dapat ke Pantai Taipa
Menuju Pantai Taipa dari Bandara dapat menggunakan taksi, angkot, ataupun ojek dengan tarif yang cukup terjangkau. Untuk taksi (Argo) biasanya sebesar RP 30.000, sedangkan untuk tarif angkot cukup dengan Rp15.000. Sementara, jika menggunakan ojek, tarif yang dipatok sebesar Rp 25.000.
Hari gene masih belum bisa baca Quran? Don't worry! Untuk bisa mengaji bukanlah suatu hal sulit. Tidak perlu menghabiskan waktu berbulan-bulan, atau bahkan bertahun-tahun. Wow, serem banget kalau sampai bertahun-tahun! Belajar Alquran tidak sesulit itu sehingga harus menghabiskan banyak waktu.
Metode Rubaiyat merupakan metode yang sudah teruji selama 15 tahun, khususnya untuk para mualaf yang ada di dalam dan luar negeri., mereka belajar mengaji begitu semangat karena disampaikan dengan metode yang mudah, cepat, dan menyenangkan.
Mengapa metode Rubaiyat begitu sangat mudah, sampai hanya menghabisakan waktu 4 jam saja? Rubaiyat memiliki makna "serba empat" sehingga materi yang disampaikannya pun serba empat.
Satu jam pertama (pertemuan pertama) adalah menghafal 29 huruf Hijaiyah dengan cara Rubaiyat. Bedanya dengan metode biasa adalah huruf dalam metode Rubaiyat disusun berdasarkan kesamaan dan kemiripan bentuk.
Satu jam kedua (pertemuan kedua) adalah mulai menyambung huruf dalam bentuk kata dengan cara Rubaiyat Anda akan menguasai kata-kata sederhana dalam Alquran. Pelajaran kedua ini sangat menarik dan menyenangkan karena diajarkan melalui lagu-lagu yang populer yang sudah kita kenal.
Satu jam ketiga (pertemuan ketiga) adalah menyambungkan kata sehingga menjadi sebuah kalimat dengan cara Rubaiyat. Anda diajak menguasai kalimat-kalimat di dalam Alquran, juga diajarkan dengan nyanyian, sehingga meskipun lebih sulit namun tetap mengasyikkan.
Satu jam keempat (pertemuan keempat) adalah langsung membaca Al-Quran, insya-Allah. Kini, Anda diajak untuk menguasai bacaan-bacaan unik dalam Alquran. Dan, ini adalah sesi terakhir.
Dengan begitu, buku + DVD RUBAIYAT menjadi solusi cerdas pada saat yang tepat. Biiznillah, hanya dengan 4 kali pertemuan dlam 4 pelajaran, pelajar (muta'allim) akan merasakan hasilnya: BISA MEMBACA ALQURAN pada halaman mana saja yang ia suka.
Untuk Pemesanan, silakan mengisi FORMULIR PEMESANAN di sebelah!