Ramadan segera menjelang, kegembiraan hati pun kembali membuncah. Akan segera disaksikan kehidupan seperti "disulap", dari perubahan cat rumah sampai dengan penampilan "mendadak islami". Anda ingin melihat miniaturnya? Nanti, silakan menyalakan telivisi. Hampir di setiap channel-nya tampak fenomena itu. Rasulullah selalu memberi kabar gembira kepada para sahabatnya setiap kali datang bulan Ramadan. Beliau bersabda, “Telah datang pada kalian bulan Ramadan, bulan yang diberkahi, Allah telah mewajibkan atas kalian untuk berpuasa di dalamnya. Pada bulan itu juga dibukakan pintu Surga serta ditutup pintu-pintu neraka…” (HR. Ahmad).
Ramadan memang berkah dari semua sisi kebaikan. Oleh karena itu, umat Islam harus mengambil keberkahan Ramadan dari semua aktivitas positif dan dapat memajukan Islam dan umat Islam. Termasuk dari sisi ekonomi, sosial, budaya, dan pemberdayaan umat. Meskipun demikian, semua aktivitas yang positif itu tidak sampai mengganggu kekhusukan ibadah Ramadan, terutama pada 10 terakhir bulan Ramadan. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan bulan puasa sebagai bulan penuh amaliah dan aktivitas positif. Selain yang telah tergambar seperti tersebut di muka, beliau juga aktif melakukan kegiatan sosial kemasyarakatan.
Persiapan Mental
Persiapan mental untuk puasa dan ibadah terkait lainnya sangat penting. Apalagi, pada saat menjelang hari-hari terakhir, karena tarikan keluarga yang ingin belanja mempersiapkan hari raya, pulang kampung, dan lain-lain, sangat memengaruhi umat Islam dalam menunaikan kekhusukan ibadah Ramadan. Dan kesuksesan ibadah Ramadan seorang muslim dilihat dari akhirnya. Jika akhir Ramadan diisi dengan iktikaf dan taqarrub yang lainnya, maka insya-Allah, dia termasuk yang sukses dalam melaksanakan ibadah Ramadan.Persiapan Ruhiyah
Persiapan ruhiyah dapat dilakukan dengan memperbanyak ibadah, seperti memperbanyak membaca Alquran shaum sunnah, zikir, doa, dan lain-lain. Dalam hal mempersiapkan ruhiyah, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam mencontohkan kepada umatnya dengan memperbanyak puasa di bulan Sya’ban, sebagaimana yang diriwayatkan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Saya tidak melihat Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam menyempurnakan puasanya, kecuali di bulan Ramadan. Dan saya tidak melihat dalam satu bulan yang lebih banyak puasanya kecuali pada bulan Sya’ban” (HR Muslim).Persiapan Fikriyah
Persiapan fikriyah atau akal dilakukan dengan mendalami ilmu, khususnya ilmu yang terkait dengan ibadah Ramadan. Banyak orang yang berpuasa tidak menghasilkan kecuali lapar dan dahaga. Hal ini dilakuakan karena puasanya tidak dilandasi dengan ilmu yang cukup. Seorang yang beramal tanpa ilmu, tidak menghasilkan kecuali kesia-siaan belaka.
Persiapan Fisik dan Materi
Seorang muslim tidak akan mampu atau berbuat maksimal dalam berpuasa jika fisiknya sakit. Oleh karena itu, mereka dituntut untuk menjaga kesehatan fisik, kebersihan rumah, masjid dan lingkungan. Rasulullah mencontohkan kepada umat agar selama berpuasa tetap memperhatikan kesehatan. Hal ini terlihat dari beberapa peristiwa di bawah ini:- Menyikat gigi dengan siwak (HR. Bukhari dan Abu Daud).
- Berobat seperti dengan berbekam (al-hijamah) seperti yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim.
- Memperhatikan penampilan, seperti pernah diwasiatkan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada sahabat Abdullah ibnu Mas’ud ra, agar memulai puasa dengan penampilan baik dan tidak dengan wajah yang cemberut. (HR. Al Haitsami).
Rencanakan Peningkatan Prestasi Ibadah
Ibadah Ramadan dari tahun ke tahun harus meningkat. Tahun depan harus lebih baik daripada tahun ini dan tahun ini harus lebih baik daripada tahun lalu. Ibadah Ramadan yang kita lakukan harus dapat mengubah dan memberikan output yang positif. Perubahan pribadi, perubahan keluarga, perubahan masyarakat dan perubahan sebuah bangsa.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS Ar-Ra’d: 11).Di antara bentuk-bentuk peningkatan amal Ibadah seorang muslim di bulan Ramadan adalah peningkatan, ibadah puasa, peningkatan dalam tilawah Alquran, hafalan, pemahaman dan pengamalan. Peningkatan dalam aktivitas sosial, seperti infak, memberi makan kepada tetangga dan fakir-miskin, santunan terhadap anak yatim, beasiswa terhadap siswa yang membutuhkan, dan meringankan beban umat Islam.
Utamakan Persatuan Umat Islam
Bulan Ramadan adalah bulan rahmat, ketika kasih-sayang dan persaudaraan harus diutamakan daripada yang lainnya. Ukhuwah Islamiyah adalah prinsip dari kebaikan umat Islam sehingga ibadah Ramadan harus berdampak pada ukhuwah Islamiyah yang terlihat jelas dalam penentuan awal dan akhir puasa dan mengisi ibadah Ramadan. Meskipun demikian, semuanya harus tetap berkomitmen dengan Alquran dan Sunnah.Diperlukan sikap bijak dari para ulama untuk bertemu dan duduk dalam satu majelis bersama pemerintah (Kementerian Agama) menentukan kesamaan awal dan akhir Ramadan. Tentunya, berdasarkan argumentasi ilmiah yang kuat dan landasan-landasan yang kokoh berdasarkan syariat Islam. Memang, perbedaan pendapat (dalam masalah furu') adalah rahmat. Namun, kesamaan penentuan awal dan akhir Ramadan lebih lebih dekat dari rahmat Allah yang diberikan kepada orang-orang yang bertakwa. Perbedaan pendapat dalam penentuan awal dan akhir Ramadan adalah suatu pertanda belum terbangun kuatnya budaya syura, ukhuwah Islamiyah dan pembahasan ilmiyah dalam tubuh umat Islam, lebih khusus lagi para ulamanya. Ukhuwah Islamiyah dan persatuan umat Islam jauh lebih penting daripada ibadah-ibadah sunnah dan perbedaan pendapat tetapi menimbulkan perpecahan.
Jadikan Ramadan Syahrut-Taubah
Bulan Ramadan adalah bulan dimana setan dibelenggu, hawa nafsu dikendalikan dengan puasa, pintu neraka ditutup, dan pintu surga dibuka. Dengan demikian, bulan Ramadan adalah waktu yang sangat kondusif untuk bertobat dan memulai hidup baru dengan langkah baru yang lebih Islami. Tobat berarti meninggalkan kemaksiatan, dosa, dan kesalahan serta kembali kepada kebenaran. Atau kembalinya hamba kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, meninggalkan jalan orang yang dimurkai dan jalan orang yang sesat.Tobat bukan hanya terkait dengan meninggalkan kemaksiatan, tetapi juga terkait dengan pelaksanaan perintah Allah. Orang yang bertobat masuk kelompok yang beruntung. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung” (QS. An-Nur : 31).
Oleh karena itu, pada bulan bulan Ramadan orang-orang beriman harus memperbanyak istigfar dan tobat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, mengakui kesalahan dan meminta maaf kepada sesama manusia yang dizaliminya serta mengembalikan hak-hak mereka. Tobat dan istigfar menjadi syarat utama untuk mendapat maghfirah, rahmat dan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala.
“Dan (dia berkata), 'Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa'.” (QS Hud 52)
Jadikan Ramadan Syahrut Tarbiyah
Bulan Ramadan harus dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh para dai dan ulama untuk melakukan dakwah dan tarbiyah. Terus melakukan gerakan reformasi; membuka pintu-pintu hidayah dan menebar kasih sayang bagi sesama; meningkatkan kepekaan untuk menolak kezhaliman dan kemaksiatan; menyebarkan syiar Islam dan meramaikan masjid dengan aktifitas taklim, kajian kitab, diskusi, ceramah, dan lain-lain.Dengan begitu, diharapkan terwujud perubahan-perubahan yang esensial dan positif dalam berbagai bidang kehidupan. Ramadan bukan bulan istirahat yang menyebabkan mesin-mesin kebaikan berhenti bekerja, melainkan momentum tahunan terbesar untuk segala jenis kebaikan sehingga kebaikan itulah yang dominan atas keburukan dan dominasi kebaikan bukan hanya di bulan Ramadan, tetapi juga di luarnya.
Ambil Keberkahan Ramadan secara Semaksimal
Ramadan adalah bulan penuh berkah dari semua sisi kebaikan. Oleh karena itu, umat Islah harus mengembail keberkahan Ramadan dari semua aktivitas positif dari berbagai aspek, seperti ekonomi, sosial, budaya dan pemberdayaan umat. Walaupun demikian, semua aktivitas yang positif itu jangan sampai mengganggu kekhusukan ibadah ramadhan terutama pada 10 hari terakhir..Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam menjadikan bulan puasa sebagai bulan penuh amaliah dan aktivitas positif. Selain yang telah tergambar seperti tersebut di muka, beliau juga aktif melakukan kegiatan sosial kemasyarakatan. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam menikahkan putrinya (Fathimah) dengan Imam Ali r.a. Pada bulan itu, beliau pula menikahi Hafsah dan Zainab.
Jadikan Ramadan Bulan Evaluasi
Semua ibadah Ramadan yang telah dilakukan tidak boleh lepas dari muhasabah atau evaluasi. Muhasabah dilakukan terhadap langkah-langkah yang telah kita perbuat dengan senantiasa menajamkan mata hati (bashirah) sehingga tidak menjadi orang/kelompok yang selalu mencari-cari kesalahan orang/kelompok lain tanpa mau bergeser dari perbuatan kita sendiri yang mungkin jelas kesalahannya.Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa menerima puasa kita dan amal saleh lainnya dan mudah-mudahan tarhib ini dapat membangkitkan semangat beribadah kita sekalian sehingga membuka peluang bagi terwujudnya Indonesia yang lebih baik, lebih aman, lebih adil dan lebih sejahtera.





0 komentar :
Posting Komentar